SEJARAH DAN PERKEMBANGAN JUDO

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN JUDO

Asal usul Judo

Konon, judo dulunya berasal dari Jujitsu. Nenek moyang orang Jepang yang hidup di jaman Jomon (5000 SM) dan jaman Yayoi di abad 2 – 3 Masehi telah belajar teknik-teknik membanting, memukul, menendang dan mengunci orang agar berhasil dalam pertarungan antara sesama manusia maupun untuk berburu binatang.

Selama masa Nara (552-793 M) kekaisaran menerapkan tiga macam ilmu militer yaitu panahan, panahan berkuda dan gulat sumo. Seseorang yang memiliki ketiga jenis ilmu tersebut dapat mencapai status yang tinggi. Waktu itu negara Jepang kurang bersatu dan sering terjadi pemberontakan hingga menimbulkan keinginan seseorang untuk menguasai ilmu beladiri yang sempurna. Gulat sumo mengalami transisi dari bentuk ritual ke bentuk militer, bersamaan penaklukan daerah-daerah timur oleh Sakanoue dimana banyak pendekar Samurai berlatih sumo. Pada waktu itu para pegulat sumo berpakaian lengkap dalam latihan, berbeda dari sekarang dimana mereka hampir tidak berbaju.

Di masa Heian (794-1184 M) kelompok-kelompok Genji dan Keike saling berebut supremasi. Guru-guru beladiri militer Yaroigumi (bertarung dengan memakai pelindung) dan Katchu Gumi Uchi (bertarung dengan memakai penutup tubuh dari logam) diorganisir secara besar-besaran dan mengalami penyempurnaan selama masaa Kamakura (1185-1392 M).

Sistem pendekar perang berkuasa dimulai semasa Muromachi (1392-1573 M) sampai masa Sengoku (1477-1582 M). Pada masa itu tidak ada stabilitas sosial karena para panglima perang saling berebut kekuasaan. Sementara itu kelompok-kelompok samurai dan kelompok warga negara biasa yang sebelumnya telah belajar ilmu bela diri turut menunjang perkembangan Jujitsu Kogusoku dan Koshi No Mawari.

Dari masa Azuchi sampai masa Momoyama (1573-1615 M) bentuk-bentuk ritual sumo menjadi popular kembali. Gulat dalam bentuk modern mulai muncul dan pembagian yang jelas berbagai jenis pertarungan mewarnai keanekaragaman Jenis beladiri yang sekarang ini memiliki berbagai nama dan aliran dalam perkembangannya.

Judo mulai diikutsertakan pada Kejuaraan Nasional Jepang tahun 1948. Pada tahun itu juga terbentuk Federation Judo Eropa yang didirikan di London. Tahun 1949 berdiri Federation Judo Jepang dan pertandingan antara timur dan barat mulai diadakan. Banyak pejudo-pejudo senior dikirim ke luar negeri untuk mengembangkan minat judo dan mengikuti mengikuti berbagai kejuaraan Internasional di Asia, Eropa, dan Amerika. Akhirnya Judo menjadi berita hangat sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan pada Olympiade 1964 Tokyo.

Perkembangan Judo di Indonesia

Di Indonesia Judo mulai berkembang pada tahun 1949 ketika seorang Belanda bernama JD SCHILDER mendirikan perkumpulan Judo di Jakarta dengan nama JIGORO KANO KWAI. Banyak anggota masyarakat seperti pelajar, mahasiswa, umum maupun angkatan bersenjata ikut berlatih. Beberapa anggota perkumpulan ini yang masih aktif hingga sekarang adalah Prof. Dechan Elias, Leo Budiman Prakasa, HW Muchdie, dll.

Perkumpulan di daerah lainpun mulai berrmunculan, seperti di Medan dibawah pimpinan Moriwa Wada dari Jepang, kemudian di Surabaya yang dipimpin oleh seorang Jepang yang bernama S. Makino. Dari sini lahir nama-nama GW Pantaouw, yang sampai sekarang menjadi tokoh Judo di Jawa Timur. Selain itu Pancoro, pejudo tangguh pada dekade enam puluhan, serta Lukas Umartono yang kemudian pindah ke Solo dan menjadi tokoh Judo di Jawa Tengah. diBandung para perwira Sudam I Kodam III Siliwangi mendirikan sebuah perkumpulan Judo bernama Judo Institute Bandung (JIB) pada tanggal 20 Mei 1955. pelatihnya seorang Jepang bernama Toke Oki Supriadi.

Tanggal 25 Desember 1955 berdirilah organisasi yang mengelola olahraga Judo yaitu PERSATUAN JUDO SELURUH INDONESIA disingkat PJSI. Pada tahun itu juga PJSI secara resmi diterima menjadi anggota INTERNASIONAL JUDO FEDERATION (IJF). Sayang, dalam perkembangan organisasi terjadi konflik antara Teknical Director PJSI S. Makino dengan JD Schilder yang memimpin Jigoro Kano Kwai. Akibatnya cukup fatal, anggota Jigoro Kano Kwai tidak diperbolehkan menjadi anggota PJSI sehingga mereka pun mendirikan organisasi tandingan yang diberi nama PERSATUAN JUDO INDONESIA DJAKARTA (PJID) yang dipelopori oleh mahasiswa dan Kepolisian RI. Sejak itu kegiatan judo di Indonesia ditangani oleh PJSI dan PJID. Keadaan ini berlanjut sampai tahun 1960.

Tanggal 20 Desember 1960 diadakan kongres II bandung. Salah satu keputusannya yang penting adalah mufakat kedua pihak yang berselisih akan bergabung dalam satu wadah, yakni PJSI. Setelah bergabung kembali, barulah perkembangan organisasi menjadi maju pesat.

Dalam acara PON V tahun 1961 di Bandung, Judo merupakan salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Inilah kesempatan pertama bagi para pejudo daerah untuk bertanding dalam Skala Nasional. Sang juara pada waktu itu adalah SUJONO dari Propinsi Riau, yang kini dikenal sebagai salah satu Tokoh Judo di Indonesia.

Tahun 1963 Indonesia mulai mengikuti kegiatan Internasional, dalam Ganefo I di Jakarta. Pejudo DKI Jaya, Tonny Atmajaya berhasil menjadi juara III kelas berat. Pada tahun 1966 Indonesia mengikuti kejuaraan Asia I di Manila. Dalam Kongres I Judo Federation of Asia (JUA), Indonesia diwakili oleh Prof. Dechjan Elias. Hasil kejuaraan Asia yang berhasil diraih Indonesia adalah juara III kelas Menengah oleh Tonny Atmajaya dan Juara III kelas Berat oleh Paulus Pranoto..

Sejak itu, Indonesia selalu ikut dalam percaturan Olahraga Judo, baik di tingkat Asia maupun Dunia. Dengan Prestasi yang terbaik dikawasan Asia Tenggara. Para pejudo yang mempunyai nama ditingkat nasional maupun Internasional antara lain adalah Pancoro, Soejono, Atmajaya bersaudara, Raymond Rochili, Suranta Ginting, Yono Budiono, Haryanto Chandra, Perry Pantaouw, Elly Amalia, Bambang Prakarsa dll.

Pengelola dan pengurus organisasi Judo tidak terlepas dari nama-nama seperti Jendral Surono, HW Muchdie, Prof. Dechjan Elias, Soejono, Ir. AR. Soehoed, Mayjen Wismoyo Arismunandar, Hamidin AR serta Atmajaya Bersaudara yang mempunyai warna tersendiri dalam mengembangkan Judo di Indonesia. Sedangkan para pembina daerah yang aktif mengembangkan Judo di diantaranya adalah GW Pantouw untuk Jawa Timur, Lucas Umartono (Alm) untuk Jawa Tengah, T. Oki Supriadi dan Atang M. Noors BA untuk Jawa Barat, BF Sianipar dan Leo Budiman Prakarsa untuk DKI Jaya. M. Wada (Alm) untuk Sumatera Utara.

TUJUAN JUDO

Untuk menguasai Teknik Judo perlu dilakukan latihan fisik. Kunci yang pokok adalah meningkatkan penguasaan diri dengan penuh kesabaran untuk menguasai rasa sakit dan kekalahan. System jepang tercermin dalam latihan judo, dimana jiwa raga bersatu dan filosofi jiwa merupakan nilai kesatuan ini.

JUDO berarti CARA YANG HALUS, sedangkan JUJITSU berarti TEKNIK YANG HALUS. Filosofi judo bertujuan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat melalui kesatuan jiwa raga, dengan kata lain, Jigoro Kano menggunakan energi/tenaga dengan bijaksana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s