PENDEKATAN SOSIO-EMOSIONAL

PENDEKATAN SOSIO-EMOSIONAL PADA PROSES BELAJAR MENGAJAR

1. Hal-hal yang mendasari penggunaan pendekatan sosio-emosional.

Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim, sosio-emosional yang baik.

Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding).

Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.

Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat; memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik.

Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.

2. Hal-hal yang meliputi kondisi sosio-emosional.

a. Tipe kepemimpinan

Peranan guru, tipe kepemimpinan guru atau administrator akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Tipe kepemimpinan yang lebih berat pada otoriter akan menghasilkan sikap siswa yang submissive atau apatis. Tetapi dipihak lain juga akan menumbuhkan sikap agresif.

Kedua sikap siswa yaitu apatis dan agresif ini dapat merupakan problema manajemen, baik yang sifatnya individual maupun kelompok kelas sebagai keseluruhan.

Dengan tipe kepemimpinan yang otoriter siswa hanya akan aktif jika kalau ada guru saja dan kalau guru tidak mengawasi maka semua aktivitas menjadi menurun. Aktivitas proses belajar mengajar sangat tergantung pada guru menuntun sangan banyak perhatian dari guru. Tipe kepemimpinan yang cenderung pada lazier-faire biasanya tidak produktif walaupun ada pemimpin. Kalau ada guru, siswa lebih banyak melakukan kegiatan yang sifatnya ingin diperhatikan. Dalam kepemimpinan tipe ini malahan biasanya aktivitas siswa lebih produktif kalau guru tidak ada. Tipe ini biasanya lebih cocok bagi siswa yang “innerdirecterd” simana siswa tersebut aktif, penuh kemauan, berinisiatif dan tidak selalu menunggu pengarahan. Akan tetapi kelompok seperti ini biasanya tidak cukup banyak.

Tipe kepemimpinan guru yang lebih menekankan kepada sikap demokratis lebih memungkinkan terbinanya sikap persahabatan guru dan siswa denga dasar saling memahami dan saling mempercayai. Sikap inidapat membantu tercipyanya iklim yang menguntungkan bagi terciptanya  kondisi belajar yang optimal. Siswa akan belajar secara produktif baik pada saat ada guru maupun tidak ada guru. Dalam kondisi semacam ini biasanya problema manajemen kelas bisa dipeerkecil sesedikit mungkin.

Dalam upaya menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, guru harus menempatkan diri sebagai: model, pengembang, perencana, pembimbing, dan fasilitator (Centra, 1990).

Guru sebagai model adalah guru yang tidak menuntut banyak disiplin kaku melainkan sebagai model. Ia mengharapkan dengan pemodelan yang ditampilkan dapat memberi pengalaman dan keantusiasan belajar siswa. Ia tidak menekankan kepada daya ingat terhadap apa yang dikatakan, melainkan mengingatkan siswa jika menemukan ide atau gagasan baru pada akhir pembelajaran.

Guru sebagai pengembang adalah guru yang ahli dalam melaksanakan tugas dengan format ia tidak membiarkan dan mengijinkan siswa bolos atau malas tanpa alasan yang sah. Ia suka mengadakan penilain terhadap segala bidang yang dikerjakan para siswa.

Guru sebagai perencana adalah guru yang ahli dalam bidangnya, yang mengatur, kelas sebagai tata ruang belajar. Ia memiliki pengetahuan dan wawasan luas. Ia menganggap bahwa para siswa belajar kepadanya karena ia mempelajari sebayak mungkin apa yang diketahui guru.

Guru sebagai pembimbing adalah guru yang saling membelajarkan antara dirinya dengan sesama dan siswanya. Ia mengajar siswa dengan sistem sosial yang dinamis. Ia mengharapkan ada interaksi belajar antara diri dan siswanya. Ia mengajar karena mengetahui adanya perkembangan pribadi masing-masing individu, yang mengembangkan suasana saling percaya kan keterbukaan.

Guru sebagai fasilitator adalah guru yang menyadari bahwa pekerjaannya merespon tujuan para siswa sekalipun tujuan itu bervariasi. Ia kurang menyenangi apabila ada siswa yang mendapat kesulitan belajar. Ia banyak mendengar dan bertanya kepada siswa. Ia menginginkan siswa dapat belajar dan mencapai tujuan sesuai harapannya.

b. Sikap guru

Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah laku siswa dan bukan membenci siswanya iu sendiri. Terimalah siswa dengan hangat, siehingga ia insyaf dengan akan sesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswasadr akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya.

c. Suara guru

Suara guru, walaupun bukan faktoryang besar, turut mempenyai pengaruh besar dalam belajar. Suara yang melengking tnggi atau senautiasa tinggi atau demikian rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa secara jelas dari jarak yang agak jauh akan mengakibatkan suasana gaduh. Keadaan seperti itu, juga akan membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara yang relative rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran. Mereka yang lebih berani mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan sendiri, dan sebagainya. Tekanan suara hendaknya bervariasi sehingga tidak membosankan siswa yang mendengarnya. Hal yang penting dari itu semuanya adalah proses pembelajarannya akan semakin terarah.

d. Pembinaan hubungan baik

Pembinaan hubungan baik (report) antara guru dan siswa dalam masalah manajemen kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, realistik dalam kegiatan belajar mengajar yang sedang dilakukan serta terbuka terhadap hal-hal yangakan ada pada dirinya.

3. Cara menciptakan kondisi sosio-emosional yang positf.

Dalam pengengembangan iklim sosio-emosional yang positif Ginot menekankan pentingnya kolinikasi yang diselenggarakan oleh guru. Yang amat perlu diperhatikan adalah komunikasi itu ialah bahwa guru hendaklah membicarakan keadaan yang dijumpai pada waktu itu dan tidak membicarakan pribadi ataupun sifat-sifat siswa. Jika guru dihadapkan pada perilaku siswa yang tidak menyenangkan, guru disarankan agar menjelaskan apa yang dilihatnya, apa yang dirasakan, dan apa yang sebaliknya dilakukan. Sebagai tambahan, Ginot mengemukakan sebuah daftar saran tentang cara-cara yang hendaknya dilakukan oleh guru dalam berkomunikasi secara efektif, yanitu sebagai berikut:

Alternatif pernyataan kepada situasi siswa, jangan menilai dirinya karena hal itu dapat merendahkan diri siswa.

Gambarkan situasi, ungkapkan perasaan tentang situasi itu, dan jelaskan harapan mengenai situasi tersebut.

Nyatakan perasaan yang sebenarnya yang akan meningangkatkan pengertian siswa.

Hindarkan cara memusuhi dengan cara mengundang kerja sama dan memberikan kepada siswa kesempatan mengalami ketidak ketergantungan.

Hindarkan sikap menentang atau melawan dengan cara menghindarkan perintah atau tuntutan yang memancing renspons defensif.

Akui, terima, dan hormati pendapat serta perasaan siswa dengan cara meningkatkan perasaan harga dirinya.

Hindarkan diagnosis dan prognosis yang akan menilai siswa, karena itu akan melemahkan siswa.

Jelaskan proses, dan tidak menilai produk atau pribadi, berikan bimbingan dan bukan kecaman.

Hindarkan pertanyaan dan komentar yang memungkinkan memancing sikap menolak dan mengundang sikap menentang.

Tolak memberikan godaan kepada siswa pemecah yang ditawanrkan secara buru-buru, pergunakan waktu untuk memberikan bimbingan yang diperlukan oleh siswa untuk memecahkan masalahnya. Doronglah kemampuan untuk mengatur diri sendiri.

Hilangkan sarkasme, karena hal itu akan mengurangi harga diri peserta didik.

Usahakan penjelasan yang singkat, hindarkan khotbah yang bertele-tele yang tidak akan menyakitkan motivasi.

Pantau dan waspadailah terhadap dampak kata-kata yang disampaikan kepada siswa.

Berikan pujian yang bersifat menghargai, karena hal itu produktif, tetapi hindarkan ppujian yang bersifat menilai karena hal itu destruktif.

Dengarkan apa yang diungkapkan peserta didik dan dorong mengungkapokan buah pikiran dan perasaan.

Dan juga dalam pengengembangan iklim sosio-emosional yang positif perlu juga adanya sikap mengakui identitas atas keberhasilan siswa. Dinyatakan juga oleh Glasser bahwa satu-satunya kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan identitas yaitu perasaan berhasil dan dihargai. Untuka mencapai identitas berhasil dalam konteks sekolah, seseorang harus mengembangkan perasaan tanggung jawab sosial dan harga diri. Tanggungajawab sosial dan harga diri  adalah hasil yang diperoleh siswa yang telah mengembangkan hubungan baik dengan sesamanya. Jadi untuk mengembangkan identitas keberhasilan yang penting adalah keterlibatan. Perilaku siswa yang menyimpang adalah buah kegagalanya mengembangkan identitas keberhasilan. Dalam kaitan itu, Glasser mengemukakan delapan langkah untuk membantu peserta didik mengubah perilakunya berikut ini:

secara pribadi melibatkan diri dengan siswa; menerima siswa tetapi bukan kepada perilakunya yang menyimpang; menunjukkan kesediaan membantu siswa memecahakan masalah.

Memberikan uraian kepada tentang parilaku siswa; mengenai masalah tetapi tidak menilai atau menghakimi siswa.

Membantu siswa membuat penilaian atau pendapat tentang perilakunya yang menjadi masalah itu. Pusatkan kepada apa dilakukan oleh siswa yang menimbulakan masalah dan apa yang menyebabkan kegagalan.

Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik; jika perlu berikan alternatif-alternatif; bantulah siswa membuat keputusan sendiri berdasarankan penilaiannya atas alternative-alternatif yang ada untuk mengembangkan perasaan tanggung jawab sendiri.

Membimbing siswa mengikatkan diri dengan rencana yang telah dibuatnya.

Mendorong siswa sewaktu melakukan rencananya dan memelihara keterikatannya dengan rencana tersebut; yakinkan siswa bahwa guru mengetahi kemajuan kemajuan yang dibuatnya.

Tidak menerima pernyataan maaf siswa apabila siswa gagal meneruskan keterikatannya; bantulah ia memahami bahwa ia sendirilah yang bertanggungajawab atas perilakuny; bantulah ia memahami bahwa  sendirilah yang bertanggung jawab atas perilakunya; ingatkan siswa akan perlunya rencna yang lebih baik; menerima pernyataan maaf berarti tidak memusingkan masalah siswa.

Memberikan kesempatan kepada siswa merasakan akibat wajar dari perilakunya yang menyimpang tetapi jangan menghukumnya; bantulah siswa mencoba lagi menyusun rencan yang lebih baik mengikatkan diri dengan rencana tersebut.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s